Anamorphic-Screening Film Audio Visual 2017

Posted by Kanadiea. Jumat, 21 Juli 2017

Sebuah teknik sinematografi yang biasa digunakan untuk memberi efek dramatis dalam pengambilan gambar. Footage yang dihasilkan pula memiliki efek flare yang mengagumkan, serta fokus terhadap objek yang lebih tajam. Sebuah standar yang digunakan oleh sinematografer profesional, dan selalu menjadi mimpi bagi pemulanya. Bagi seniman dan desainer, sudah menjadi kebiasaan untuk menindaklanjuti karya yang telah diciptakan, tak peduli non-akademisi ataupun bukan. Akrab dengan pameran untuk karya dalam bentuk fisik, karya berbentuk digital seperti film, dipamerkan dengan cara ditayangkan.

Screening Film, sederhananya disebut dengan nonton bareng, kali ini juga diadakan untuk penayangan film-film pendek karya mahasiswa Mata Kuliah Audio Visual 2017. Menghasilkan 5 buah film pendek dari berbagai genre, acara bertemakan Anamorphic ini diadakan di Loop Station pada 12 Mei 2017 silam. Turut dihadiri oleh dosen sekaligus pegiat film, Bapak Drs. Alexandri Luthfi. R., M.S, acara berlangsung selama 3 jam dengan lancar. Dibuka oleh dosen pembimbing, Bapak Dwisanto Sayogo, M.Ds, dan juga ketua panitia, Wahyu Wijanarko, acara dimulai pukul 18.30. Dengan diawali dengan film berjudul Kero. Film bergenre drama tersebut menceritakan tentang mimpi seorang mahasiswa dengan kelainan di matanya. Keterbatasan yang dia miliki tak jadi penghalang baginya untuk meraih mimpi. Film kedua berjudul SAKI : Birai Kampung Kami. Film bergenre dokumenter ini mengambil cerita di balik komunitas swadaya masyarakat Kampung Ledok Tukangan sebagai latar permasalahan. Meski sanggar yang biasa digunakan untuk melakukan aktifitas kini dirobohkan, tidak lantas membuat warganya berhenti di sana. Semangat baik pengajar, maupun anak didiknya, merupakan faktor terbesar komunitas tersebut bertahan. Pecah, satu kata untuk judul film ketiga. Film bergenre drama ini menceritakan tentang kekesalan sang anak, terhadap orang tuanya yang bertengkar setiap hari, hingga ia pergi ke kampung halaman sang ayah mencari solusi. Pertemuan tak disengaja dengan kenalan lama ayahnya pula, akan menjawab masalah dengan menyajikan kopi kesukaan sang ayah. Masih di genre drama, tetapi juga romantis, film selanjutnya berjudul Our Story. Film ini menceritakan tentang pertemuan pertama yang disebabkan oleh buku sketsa. Berlatarkan romantisnya Malioboro di malam hari, seorang laki-laki dan perempuan bertemu. Karya terakhir pula berjudul Femininity. Film bergenre thriller ini mengangkat permasalahan pemikiran yang terkotak-kotak tentang hal terkait indentitas gender. Seorang laki-laki berkarakter lembut, berbeda dengan laki-laki kebanyakan, harus berakhir menjadi orang gila yang agresif setelah membunuh kedua orang tuanya. Andai semua orang bisa terbuka terhadap karakter orang lain, tentunya bully tidak akan terjadi, tokoh utama dalam film tersebut tak perlu menjadi pembunuh.

  

Screening ditutup dengan evaluasi dari bapak Drs. Alexandri Luthfi, M.S. Evaluasi diberikan dari berbagai sisi, baik latar belakang masalah, cerita, aktor dalam film, sampai ke teknis penggarapan film sendiri. Evaluasi sekaligus penyampaian materi oleh Pak Alex, diakhiri dengan sesi tanya jawab. "Saya bangga dengan kalian, silahkan dilanjutkan untuk selanjutnya" tutup Pak Alex di akhir sesi tanta jawab. Sesi awarding pun diadakan setelah penayangan film. Para pemenang awarding tersebut adalah : 1. Best Cinematography : Pecah 2. Best Story : Pecah 3. Best Actor : Muhammad Noor Ariffin 4. Best Director : Muhammad Noor Ariffin 5. Best Film : IKI VISUAL Acara ditutup dengan akustik dari Generasi Palem pukul 21.00.