Studi Kasus Mata Kuliah Fotografi Dasar Pemotretan di Pasar Tradisional

Posted by Nofria Doni Fitri, M. Sn. Sabtu, 21 April 2018

Pasar awalnya tempat berkumpul sekelompok orang untuk bertukar informasi. Pertemuan penjual dan pembeli, saling tawar-menawar untuk mendapatkan kesepakatan barang yang diperjualbelikan dengan sah. Portret kehidupan sosial masyarakat juga tergambar di pasar tradisional.

Keberadaannya Pasar Tradisional kian terpinggirkan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Beberapa pasar telah di renovasi oleh pemerintah daerah, tanpa mempedulikan sejarah dan latar belakang pasar dengan kontek kedaerahannya yang kuat. Pasar yang tadinya mencerminkan ciri-khas suatu daerah tidak lagi memiliki keunikan dari segi bentuk bangunannya. Bangunan pengganti tidak lebih bagus dari sisi fungsi hubungan sosial kemasyarakatan. Bangunan tembok berbentuk los yang sama dengan pasar-pasar lain yang diperbarui seolah menghilangkan keunikannya.

Kebijakan pemerintah juga menjadikan pasar tradisional sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner.

Foto Pasar Tradisional merupakan salah satu latihan untuk mahasiswa Diploma Tiga, Jurusan DKV STSRD VISI. Latihan memahami subjek foto yaitu manusia dalam konteks hubungannya dengan lingkungan mereka berada. Memotret manusia yang memiliki karakter dan dapat membangkitkan emosi bila melihatnya. Manusia dapat ditampilkan seutuhnya atau sebagai simbolis yang diekspos dengan baik. Menerapkan prinsip pemotretan objek luar ruang yang menampikan dimensi dengan baik. Melatih diri untuk memotret secara mandiri dan saling berkoordinasi dengan anggota kelompok untuk hal-hal teknis. Di Pasar Tradisional manusia sebagai subjek dan lingkungan sebagai konteks persoalan yang dapat dikonstruksi menjadi objek yang menampung ekspresi fotografer secara subjektif.

Berdasarkan pertimbangan segala kendala dan tantangan yang dihadapi, sehingga pasar layak dijadikan lokasi hunting photo. Selain tempat paling sulit untuk melatih komposisi, pasar juga dapat menggembleng mental mahasiswa untuk berhadapan langsung dengan subjek foto yang kadang-kadang tidak semua dari pedagang yang ada di pasar berkenan untuk dipotret. Dibutuhkan cara berkomunikasi yang sopan, sehingga dapat memotret situasi pasar dengan baik.

Hunting Photo dimulai pada pukul 06.45 – 09.15 WIB di Pasar Pahing atau Pasar Turi, Bantul pada Tanggal 12 April 2018, didampingi oleh seorang asisten dosen R. Hadapining Rani K, M. Ds. Jarak tempuh ke Pasar Pahing kira-kira 35 menit dari kampus VISI dengan kendaraan bermotor. Memotret pasar selain belajar teknik fotografi juga melatih kemandirian mahasiswa mulai dari persiapan peralatan, merencanakan pemotretan, membangun kerasama dengan tim (kelompok mahasiswa). Kondisi kurang cahaya (low light) di dalam Pasar Tradisional merupakan tantangan besar untuk menghasilkan foto yang baik. Fotografer harus berhati-hati meng-handle kamera di lokasi low light, jika camera shake maka hasil pemotretan gagal.

Ketidak disiplinan akan mengakibatkkan kerugian waktu, tenaga dan biaya, sehingga menuntut mahasiswa serius dalam membuat perencanaan.

Sebelum melakukan hunting photo, Segala ketentuan teknis dan hal-hal non teknis yang akan ditemui di pasar tradisional telah disampaikan N. Doni Fitri, M. Sn selaku dosen pengampu Mata Kuliah Fotografi Dasar.

 

Tantangan Teknis yang dihadapi antara lain:

  1. Cukup merepotkan bila menggunakan tripod di pasar tradisional, sehingga mengandalkan kemampuan camera handling dengan baik.
  2. Sulit mengatur komposisi dengan baik karena subjek selalu begerak
  3. Sering terjadi kesan objek (over lapping)
  4. Sulit menampilkan suasana yang wajar dari Pasar tradisional
  5. Manfaatkan  cahaya dari samping atau dari belakang untuk dimensi foto yang baik
  6. Sering berganti-ganti pengukuran (metering)
  7. Objek tidak dapat diatur dan sering berubah posisi
  8. Menentukan sudut pemotretan yang tidak mengganggu lalu-litas orang di pasar
  9. Menghindari objek yang memberi kesan modern pada latar depan dan belakang